Video 4 Des

kangker payudara

4 Des
    1. Pengertian

      1. Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk bejolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Erik T, 2005, hal : 39-40)

      2. Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas. (http//www.pikiran-rakyat.com.jam 10.00, Minggu Tanggal 29-8-2005, sumber : Harianto, dkk)

    2. Etiologi

Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti. Namun beberapa faktor resiko pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara, yaitu :

      1. Tinggi melebihi 170 cm

Wanita yang tingginya 170 cm mempunyai resiko terkena kanker payudara karena pertumbuhan lebih cepat saat usia anak dan remaja membuat adanya perubahan struktur genetik (DNA) pada sel tubuh yang diantaranya berubah ke arah sel ganas.

      1. Masa reproduksi yang relatif panjang.

        1. Menarche pada usia muda dan kurang dari usia 10 tahun.

        2. Wanita terlambat memasuki menopause (lebih dari usia 60 tahun)

      2. Wanita yang belum mempunyai anak

Lebih lama terpapar dengan hormon estrogen relatif lebih lama dibandingkan wanita yang sudah punya anak.

      1. Kehamilan dan menyusui

Berkaitan erat dengan perubahan sel kelenjar payudara saat menyusui.

      1. Wanita gemuk

Dengan menurunkan berat badan, level estrogen tubuh akan turun pula.

      1. Preparat hormon estrogen

Penggunaan preparat selama atau lebih dari 5 tahun.

      1. Faktor genetik

Kemungkinan untuk menderita kanker payudara 2 – 3 x lebih besar pada wanita yang ibunya atau saudara kandungnya menderita kanker payudara.

(Erik T, 2005, hal : 43-46)

 

 

    1. Anatomi fisiologi

      1. Anatomi payudara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Secara fisiologi anatomi payudara terdiri dari alveolusi, duktus laktiferus, sinus laktiferus, ampulla, pori pailla, dan tepi alveolan. Pengaliran limfa dari payudara kurang lebih 75% ke aksila. Sebagian lagi ke kelenjar parasternal terutama dari bagian yang sentral dan medial dan ada pula pengaliran yang ke kelenjar interpektoralis.

      1. Fisiologi payudara

Payudara mengalami tiga perubahan yang dipengaruhi hormon. Perubahan pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas, masa fertilitas, sampai ke klimakterium dan menopause. Sejak pubertas pengaruh ekstrogen dan progesteron yang diproduksi ovarium dan juga hormon hipofise, telah menyebabkan duktus berkembang dan timbulnya asinus.

Perubahan kedua adalah perubahan sesuai dengan daur menstruasi. Sekitar hari kedelapan menstruasi payudara jadi lebih besar dan pada beberapa hari sebelum menstruasi berikutnya terjadi pembesaran maksimal. Kadang-kadang timbul benjolan yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari menjelang menstruasi payudara menjadi tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama palpasi, tidak mungkin dilakukan. Pada waktu itu pemeriksaan foto mammogram tidak berguna karena kontras kelenjar terlalu besar. Begitu menstruasi mulai, semuanya berkurang.

Perubahan ketiga terjadi waktu hamil dan menyusui. Pada kehamilan payudara menjadi besar karena epitel duktus lobul dan duktus alveolus berproliferasi, dan tumbuh duktus baru.

Sekresi hormon prolaktin dari hipofisis anterior memicu laktasi. Air susu diproduksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui duktus ke puting susu. (Samsuhidajat, 1997, hal : 534-535)

    1. Insiden

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa lima besar kanker di dunia adalah kanker paru-paru, kanker payudara, kanker usus besar dan kanker lambung dan kanker hati. Sementara data dari pemeriksaan patologi di Indonesia menyatakan bahwa urutan lima besar kanker adalah kanker leher rahim, kanker payudara, kelenjar getah bening, kulit dan kanker nasofaring (Anaonim, 2004).

Angka kematian akibat kanker payudara mencapai 5 juta pada wanita. Data terakhir menunjukkan bahwa kematian akibat kanker payudara pada wanita menunjukkan angka ke 2 tertinggi penyebab kematian setelah kanker rahim. (http//www.pikiran-rakyat.com.jam 10.00, Minggu Tanggal 29-8-2005, sumber : Harianto, dkk).

    1. Patofisiologi

Kanker payudara bukan satu-satunya penyakit tapi banyak, tergantung pada jaringan payudara yang terkena, ketergantungan estrogennya, dan usia permulaannya. Penyakit payudara ganas sebelum menopause berbeda dari penyakit payudara ganas sesudah masa menopause (postmenopause). Respon dan prognosis penanganannya berbeda dengan berbagai penyakit berbahaya lainnya.

Beberapa tumor yang dikenal sebagai “estrogen dependent” mengandung reseptor yang mengikat estradiol, suatu tipe ekstrogen, dan pertumbuhannya dirangsang oleh estrogen. Reseptor ini tidak manual pada jarngan payudara normal atau dalam jaringan dengan dysplasia. Kehadiran tumor “Estrogen Receptor Assay (ERA)” pada jaringan lebih tinggi dari kanker-kanker payudara hormone dependent. Kanker-kanker ini memberikan respon terhadap hormone treatment (endocrine chemotherapy, oophorectomy, atau adrenalectomy). (Smeltzer, dkk, 2002, hal : 1589)

    1. Gejala klinik

Gejala-gejala kanker payudara antara lain, terdapat benjolan di payudara yang nyeri maupun tidak nyeri, keluar cairan dari puting, ada perlengketan dan lekukan pada kulit dan terjadinya luka yang tidak sembuh dalam waktu yang lama, rasa tidak enak dan tegang, retraksi putting, pembengkakan lokal. (http//www.pikiran-rakyat.com.jam 10.00, Minggu Tanggal 29-8-2005, Harianto, dkk)

Gejala lain yang ditemukan yaitu konsistensi payudara yang keras dan padat, benjolan tersebut berbatas tegas dengan ukuran kurang dari 5 cm, biasanya dalam stadium ini belum ada penyebaran sel-sel kanker di luar payudara. (Erik T, 2005, hal : 42)

    1. Klasifikasi kanker payudara

      1. Tumor primer (T)

  1. Tx : Tumor primer tidak dapat ditentukan

  2. To : Tidak terbukti adanya tumor primer

  3. Tis : Kanker in situ, paget dis pada papila tanpa teraba tumor

  4. T1 : Tumor < 2 cm

T1a : Tumor < 0,5 cm

T1b : Tumor 0,5 – 1 cm

T1c : Tumor 1 – 2 cm

  1. T2 : Tumor 2 – 5 cm

  2. T3 : Tumor diatas 5 cm

  3. T4 : Tumor tanpa memandang ukuran, penyebaran langsung ke dinding thorax atau kulit.

T4a : Melekat pada dinding dada

T4b : Edema kulit, ulkus, peau d’orange, satelit

T4c : T4a dan T4b

T4d : Mastitis karsinomatosis

      1. Nodus limfe regional (N)

  1. Nx : Pembesaran kelenjar regional tidak dapat ditentukan

  2. N0 : Tidak teraba kelenjar axila

  3. N1 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang tidak melekat.

N2 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang melekat satu sama lain atau melekat pada jaringan sekitarnya.

N3 : Terdapat kelenjar mamaria interna homolateral

      1. Metastas jauh (M)

        1. Mx : Metastase jauh tidak dapat ditemukan

        2. M0 : Tidak ada metastase jauh

        3. M1 : Terdapat metastase jauh, termasuk kelenjar subklavikula

Stadium kanker payudara :

  1. Stadium I : tumor kurang dari 2 cm, tidak ada limfonodus terkena (LN) atau penyebaran luas.

  2. Stadium IIa : tumor kurang dari 5 cm, tanpa keterlibatan LN, tidak ada penyebaran jauh. Tumor kurang dari 2 cm dengan keterlibatan LN

  3. Stadium IIb : tumor kurang dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. Tumor lebih besar dari 5 cm tanpa keterlibatan LN

  4. Stadium IIIa : tumor lebih besar dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. semua tumor dengan LN terkena, tidak ada penyebaran jauh

  5. Stadium IIIb : semua tumor dengan penyebaran langsung ke dinding dada atau kulit semua tumor dengan edema pada tangan atau keterlibatan LN supraklavikular.

  6. Stadium IV : semua tumor dengan metastasis jauh.

(Setio W, 2000, hal : 285)

    1. Pemeriksaan diagnostik

      1. Mammagrafi, yaitu pemeriksaan yang dapat melihat struktur internal dari payudara, hal ini mendeteksi secara dini tumor atau kanker.

      2. Ultrasonografi, biasanya digunakan untuk membedakan tumor sulit dengan kista.

      3. CT. Scan, dipergunakan untuk diagnosis metastasis carsinoma payudara pada organ lain

      4. Sistologi biopsi aspirasi jarum halus

      5. Pemeriksaan hematologi, yaitu dengan cara isolasi dan menentukan sel-sel tumor pada peredaran darah dengan sendimental dan sentrifugis darah.

(Michael D, dkk, 2005, hal : 15-66)

    1. Pencegahan

Perlu untuk diketahui, bahwa 9 di antara 10 wanita menemukan adanya benjolan di payudaranya. Untuk pencegahan awal, dapat dilakukan sendiri. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan sehabis selesai masa menstruasi. Sebelum menstruasi, payudara agak membengkak sehingga menyulitkan pemeriksaan. Cara pemeriksaan adalah sebagai berikut :

  1. Berdirilah di depan cermin dan perhatikan apakah ada kelainan pada payudara. Biasanya kedua payudara tidak sama, putingnya juga tidak terletak pada ketinggian yang sama. Perhatikan apakah terdapat keriput, lekukan, atau puting susu tertarik ke dalam. Bila terdapat kelainan itu atau keluar cairan atau darah dari puting susu, segeralah pergi ke dokter.

  2. Letakkan kedua lengan di atas kepala dan perhatikan kembali kedua payudara.

  3. Bungkukkan badan hingga payudara tergantung ke bawah, dan periksa lagi.

  4. Berbaringlah di tempat tidur dan letakkan tangan kiri di belakang kepala, dan sebuah bantal di bawah bahu kiri. Rabalah payudara kiri dengan telapak jari-jari kanan. Periksalah apakah ada benjolan pada payudara. Kemudian periksa juga apakah ada benjolan atau pembengkakan pada ketiak kiri.

  5. Periksa dan rabalah puting susu dan sekitarnya. Pada umumnya kelenjar susu bila diraba dengan telapak jari-jari tangan akan terasa kenyal dan mudah digerakkan. Bila ada tumor, maka akan terasa keras dan tidak dapat digerakkan (tidak dapat dipindahkan dari tempatnya). Bila terasa ada sebuah benjolan sebesar 1 cm atau lebih, segeralah pergi ke dokter. Makin dini penanganan, semakin besar kemungkinan untuk sembuh secara sempurna. Lakukan hal yang sama untuk payudara dan ketiak kanan (www.vision.com jam 10.00, Minggu Tanggal 29-8-2005, sumber : Ramadhan)

    1. Penanganan

      1. Pembedahan

    1. Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran). Mulai dari lumpektomi sampai pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena).

    2. Mastektomi total dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara, semua kelenjar limfe dilateral otocpectoralis minor.

    3. Mastektomi radikal yang dimodifikasi

Seluruh payudara, semua atau sebagian besar jaringan aksial

    1. Mastektomi radikal

Seluruh payudara, otot pektoralis mayor dan minor dibawahnya : seluruh isi aksial.

    1. Mastektomi radikal yang diperluas

Sama seperti mastektomi radikal ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna.

      1. Non pembedahan

  1. Penyinaran

Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada kanker lanjut; pada metastase tulang, metastase kelenjar limfe aksila.

  1. Kemoterapi

Adjuvan sistematik setelah mastektomi; paliatif pada penyakit yang lanjut.

  1. Terapi hormon dan endokrin

Kanker yang telah menyebar, memakai estrogen, androgen, antiestrogen, coferektomi adrenalektomi hipofisektomi.

(Smeltzer, dkk, 2002, hal : 1596 – 1600)

  1. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

    1. Pengkajian keperawatan

Pengkajian mencakup data yang dikumpulkan melalui wawancara, pengumpulan riwayat kesehatan, pengkajian fisik, pemeriksaan laboratorium dan diagnostik, serta review catatan sebelumnya.

Langkah-langkah pengkajian yang sistemik adalah pengumpulan data, sumber data, klasifikasi data, analisa data dan diagnosa keperawatan.

      1. Pengumpulan data

Adalah bagian dari pengkajian keperawatan yang merupakan landasan proses keperawatan. Kumpulan data adalah kumpulan informasi yang bertujuan untuk mengenal masalah klien dalam memberikan asuhan keperawatan .

      1. Sumber data

Data dapat diperoleh melalui klien sendiri, keluarga, perawat lain dan petugas kesehatan lain baik secara wawancara maupun observasi.

Data yang disimpulkan meliputi :

        1. Data biografi /biodata

Meliputi identitas klien dan identitas penanggung antara lain : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan dan alamat.

        1. Riwayat keluhan utama.

Riwayat keluhan utama meliputi : adanya benjolan yang menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak, nyeri.

        1. Riwayat kesehatan masa lalu

Apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya.

Apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang sama .

        1. Pengkajian fisik meliputi :

            1. Keadaan umum

            2. Tingkah laku

            3. BB dan TB

            4. Pengkajian head to toe

        2. Pemeriksaan laboratorium

            1. Pemeriksaan darah hemoglobin biasanya menurun, leukosit meningkat, trombosit meningkat jika ada penyebaran ureum dan kreatinin.

            2. Pemeriksaan urine, diperiksa apakah ureum dan kreatinin meningkat.

            3. Tes diagnostik yang biasa dilakukan pada penderita carsinoma mammae adalah sinar X, ultrasonografi, xerora diagrafi, diaphanografi dan pemeriksaan reseptor hormon.

        3. Pengkajian pola kebiasaan hidup sehari-hari meliputi :

    1. Nutrisi

Kebiasaan makan, frekuensi makan, nafsu makan, makanan pantangan, makanan yang disukai, banyaknya minum. Dikaji riwayat sebelum dan sesudah masuk RS.

    1. Eliminasi

Kebiasaan BAB / BAK, frekuensi, warna, konsistensi, sebelum dan sesudah masuk RS.

        1. Istirahat dan tidur

Kebiasaan tidur, lamanya tidur dalam sehari sebelum dan sesudah sakit.

        1. Personal hygiene

            1. Frekuensi mandi dan menggosok gigi dalam sehari

            2. Frekuensi mencuci rambut dalam seminggu

            3. Dikaji sebelum dan pada saat di RS

        2. Identifikasi masalah psikologis, sosial dan spritual

          1. Status psikologis

Emosi biasanya cepat tersinggung, marah, cemas, pasien berharap cepat sembuh, merasa asing tinggal di RS, merasa rendah diri, mekanisme koping yang negatif.

          1. Status sosial

Merasa terasing dengan akibat klien kurang berinteraksi dengan masyarakat lain.

          1. Kegiatan keagamaan

Klien mengatakan kegiatan shalat 5 waktu berkurang.

        1. Klasifikasi Data

Data pengkajian :

              1. Data subyektif

Data yang diperoleh langsung dari klien dan keluarga, mencakup hal-hal sebagai berikut : klien mengatakan nyeri pada payudara, sesak dan batuk, nafsu makan menurun, kebutuhan sehari-hari dilayani di tempat tidur, harapan klien cepat sembuh, lemah, riwayat menikah, riwayat keluarga.

              1. Data obyektif

Data yang dilihat langsung atau melalui pengkajian fisik atau penunjang meliputi : asimetris payudara kiri dan kanan, nyeri tekan pada payudara, hasil pemeriksaan laboratorium dan diagnostik.

      1. Analisa Data

Merupakan proses intelektual yang merupakan kemampuan pengembangan daya pikir yang berdasarkan ilmiah, pengetahuan yang sama dengan masalah yang didapat pada klien.

    1. Diagnosa keperawatan

    1. Nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor.

    2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan imobilisasi lengan/bahu.

    3. Kecemasan berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh.

    4. Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah

    5. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi.

    6. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta pengobatan penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.

    7. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake tidak adekuat.

 

    1. Perencanaan

Perencanaan keperawatan adalah pengembangan dari pencatatan perencanaan perawatan untuk memenuhi kebutuhan klien yang telah diketahui.

Pada perencanaan meliputi tujuan dengan kriteria hasil, intervensi, rasional, implementasi dan evaluasi.

      1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor ditandai dengan :

1. DS : – Klien mengeluh nyeri pada sekitar payudara sebelah kiri menjalar ke kanan.

2. DO : – Klien nampak meringis

– Klien nampak sesak

– Nampak luka di verban pada payudara sebelah kiri

Tujuan : Nyeri teratasi.

Kriteria :

            1. Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang

            2. Nyeri tekan tidak ada

            3. Ekspresi wajah tenang

            4. Luka sembuh dengan baik

Intervensi :

                1. Kaji karakteristik nyeri, skala nyeri, sifat nyeri, lokasi dan penyebaran.

Rasional : Untuk mengetahui sejauhmana perkembangan rasa nyeri yang dirasakan oleh klien sehingga dapat dijadikan sebagai acuan untuk intervensi selanjutnya.

                1. Beri posisi yang menyenangkan.

Rasional : Dapat mempengaruhi kemampuan klien untuk rileks/istirahat secara efektif dan dapat mengurangi nyeri.

                1. Anjurkan teknik relaksasi napas dalam.

Rasional : Relaksasi napas dalam dapat mengurangi rasa nyeri dan memperlancar sirkulasi O2 ke seluruh jaringan.

                1. Ukur tanda-tanda vital

Rasional : Peningkatan tanda-tanda vital dapat menjadi acuan adanya peningkatan nyeri.

                1. Penatalaksanaan pemberian analgetik

Rasional : Analgetik dapat memblok rangsangan nyeri sehingga dapat nyeri tidak dipersepsikan.

      1. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan imobilisasi lengan/bahu.

Ditandai dengan :

              1. DS :

  • Klien mengeluh sakit jika lengan digerakkan.

  • Klien mengeluh badan terasa lemah.

  • Klien tidak mau banyak bergerak.

              1. DO : klien tampak takut bergerak.

Tujuan : Klien dapat beraktivitas

Kriteria :

  1. Klien dapat beraktivitas sehari – hari.

  2. Peningkatan kekuatan bagi tubuh yang sakit.

Intervensi :

                  1. Latihan rentang gerak pasif sesegera mungkin.

Rasional : Untuk mencegah kekakuan sendi yang dapat berlanjut pada keterbatasan gerak.

                  1. Bantu dalam aktivitas perawatan diri sesuai keperluan

Rasional : Menghemat energi pasien dan mencegah kelelahan.

                  1. Bantu ambulasi dan dorong memperbaiki postur.

Rasional : Untuk menghindari ketidakseimbangan dan keterbatasan dalam gerakan dan postur.

c. Kecemasan berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh.

Ditandai dengan :

  1. DS :

  • Klien mengatakan takut ditolak oleh orang lain.

  • Ekspresi wajah tampak murung.

  • Tidak mau melihat tubuhnya.

  1. DO : klien tampak takut melihat anggota tubuhnya.

Tujuan : Kecemasan dapat berkurang.

Kriteria :

  1. Klien tampak tenang

  2. Mau berpartisipasi dalam program terapi

Intervensi :

  1. Dorong klien untuk mengekspresikan perasaannya.

Rasional : Proses kehilangan bagian tubuh membutuhkan penerimaan, sehingga pasien dapat membuat rencana untuk masa depannya.

  1. Diskusikan tanda dan gejala depresi.

Rasional : Reaksi umum terhadap tipe prosedur dan kebutuhan dapat dikenali dan diukur.

  1. Diskusikan tanda dan gejala depresi

Rasional : Kehilangan payudara dapat menyebabkan perubahan gambaran diri, takut jaringan parut, dan takut reaksi pasangan terhadap perubahan tubuh.

  1. Diskusikan kemungkinan untuk bedah rekonstruksi atau pemakaian prostetik.

Rasional : Rekonstruksi memberikan sedikit penampilan yang lengkap, mendekati normal.

d. Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah

Ditandai dengan :

1) DS : klien mengatakan malu dengan keadaan dirinya

2) DO :

  • Klien jarang bicara dengan pasien lain

  • Klien nampak murung.

Tujuan : klien dapat menerima keadaan dirinya.

Kriteria :

        1. Klien tidak malu dengan keadaan dirinya.

        2. Klien dapat menerima efek pembedahan.

Intervensi :

        1. Diskusikan dengan klien atau orang terdekat respon klien terhadap penyakitnya.

Rasional : membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses pemecahan masalah

        1. Tinjau ulang efek pembedahan

Rasional : bimbingan antisipasi dapat membantu pasien memulai proses adaptasi.

        1. Berikan dukungan emosi klien.

Rasional : klien bisa menerima keadaan dirinya.

        1. Anjurkan keluarga klien untuk selalu mendampingi klien.

Rasional : klien dapat merasa masih ada orang yang memperhatikannya.

e. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi.

Ditandai dengan :

  1. DS : Klien mengeluh nyeri pada daerah sekitar operasi.

  2. DO :

  • Adanya balutan pada luka operasi.

  • Terpasang drainase

  • Warna drainase merah muda

Tujuan : Tidak terjadi infeksi.

Kriteria :

  1. Tidak ada tanda – tanda infeksi.

  2. Luka dapat sembuh dengan sempurna.

Intervensi :

  1. Kaji adanya tanda – tanda infeksi.

Rasional : Untuk mengetahui secara dini adanya tanda – tanda infeksi sehingga dapat segera diberikan tindakan yang tepat.

  1. Lakukan pencucian tangan sebelum dan sesudah prosedur tindakan.

Rasional : Menghindari resiko penyebaran kuman penyebab infeksi.

  1. Lakukan prosedur invasif secara aseptik dan antiseptik.

Rasional : Untuk menghindari kontaminasi dengan kuman penyebab infeksi.

  1. Penatalaksanaan pemberian antibiotik.

Rasional : Menghambat perkembangan kuman sehingga tidak terjadi proses infeksi.

f. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta pengobatan penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.

Ditandai dengan :

  1. DS : Klien sering menanyakan tentang penyakitnya.

  2. DO : Ekspresi wajah murung/bingung.

Tujuan : Klien mengerti tentang penyakitnya.

Kriteria :

  1. Klien tidak menanyakan tentang penyakitnya.

  2. Klien dapat memahami tentang proses penyakitnya dan pengobatannya.

Intervensi :

  1. Jelaskan tentang proses penyakit, prosedur pembedahan dan harapan yang akan datang.

Rasional : Memberikan pengetahuan dasar, dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi, dan dapat berpartisipasi dalam program terapi.

  1. Diskusikan perlunya keseimbangan kesehatan, nutrisi, makanan dan pemasukan cairan yang adekuat.

Rasional : Memberikan nutrisi yang optimal dan mempertahankan volume sirkulasi untuk mengingatkan regenerasi jaringan atau proses penyembuhan.

  1. Anjurkan untuk banyak beristirahat dan membatasi aktifitas yang berat.

Rasional : Mencegah membatasi kelelahan, meningkatkan penyembuhan, dan meningkatkan perasaan sehat.

  1. Anjurkan untuk pijatan lembut pada insisi/luka yang sembuh dengan minyak.

Rasional : Merangsang sirkulasi, meningkatkan elastisitas kulit, dan menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan rasa pantom payudara.

  1. Dorong pemeriksaan diri sendiri secara teratur pada payudara yang masih ada. Anjurkan untuk Mammografi.

Rasional : Mengidentifikasi perubahan jaringan payudara yang mengindikasikan terjadinya/berulangnya tumor baru.

g. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, ditandai dengan :

  1. DS :

  • Klien mengeluh nafsu makan menurun

  • Klien mengeluh lemah.

 

  1. DO :

          • Setengah porsi makan tidak dihabiskan

          • Klien nampak lemah.

          • Nampak terpasang cairan infus 32 tetes/menit.

          • Hb 10,7 gr %.

Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi

Kriteria :

  1. Nafsu makan meningkat

  2. Klien tidak lemah

  3. Hb normal (12 – 14 gr/dl)

Intervensi :

  1. Kaji pola makan klien

Rasional : Untuk mengetahui kebutuhan nutrisi klien dan merupakan asupan dalam tindakan selanjutnya.

  1. Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering

Rasional : dapat mengurangi rasa kebosanan dan memenuhi kebutuhan nutrisi sedikit demi sedikit.

  1. Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi.

Rasional : agar menambah nafsu makan pada waktu makan.

  1. Anjurkan untuk banyak makan sayuran yang berwarna hijau.

Rasional : sayuran yang berwarna hijau banyak mengandung zat besi penambah tenaga.

  1. Libatkan keluarga dalam pemenuhan nutrisi klien

Rasional : partisipasi keluarga dpat meningkatkan asupan nutrisi untuk kebutuhan energi.

    1. Implementasi

Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan dimana rencana keperawatan dilaksanakan : melaksanakan intervensi/aktivitas yang telah ditentukan, pada tahap ini perawat siap untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan klien.

Agar implementasi perencanaan dapat tepat waktu dan efektif terhadap biaya, pertama-tama harus mengidentifikasi prioritas perawatan klien, kemudian bila perawatan telah dilaksanakan, memantau dan mencatat respons pasien terhadap setiap intervensi dan mengkomunikasikan informasi ini kepada penyedia perawatan kesehatan lainnya. Kemudian, dengan menggunakan data, dapat mengevaluasi dan merevisi rencana perawatan dalam tahap proses keperawatan berikutnya.

    1. Evaluasi

Tahapan evaluasi menentukan kemajuan pasien terhadap pencapaian hasil yang diinginkan dan respons pasien terhadap dan keefektifan intervensi keperawatan kemudian mengganti rencana perawatan jika diperlukan.

Tahap akhir dari proses keperawatan perawat mengevaluasi kemampuan pasien ke arah pencapaian hasil.

Daftar Pustaka:

 

Doenges M., (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta

 

Dixon M., dkk, (2005), Kelainan Payudara, Cetakan I, Dian Rakyat, Jakarta.

 

Mansjoer, dkk, (2000), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jakarta.

 

Sjamsuhidajat R., (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta

 

Tapan, (2005), Kanker, Anti Oksidan dan Terapi Komplementer, Elex Media Komputindo, Jakarta.

askep polip

4 Des

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) POLIP

BAB 1

PENDAHULUAN 

1.1.       Latar Belakang

Setiap manusia normalnya memiliki organ sensori, yaitu organ pembau, pendengaran, pengecapan, dan penglihatan. Organ- organ tersebut tidak jarang atau bahkan rawan sekali mengalami gangguan, sehingga terjadi gangguan sensori persepsi pada penderitanya.

Hidung adalah salah satu organ sensori yang fungsinya sebagai organ penghidu. Jika hidung mengalami gangguan, maka akan berpengaruh pada beberapa sistem tubuh, seperti pernapasan dan penciuman.

Salah satu gangguan pada hidung adalah polip nasi. Polip nasi ialah massa lunak yang bertangkai di dalam rongga hidung yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Permukaannya licin, berwarna putih keabu-abuan dan agak bening karena mengandung banyak cairan. Bentuknya dapat bulat atau lonjong, tunggal atau multipel, unilateral atau bilateral.

Polip dapat timbul pada penderita laki-laki maupun perempuan, dari usia anak-anak sampai usia lanjut. Bila ada polip pada anak dibawah usia 2 tahun, harus disingkirkan kemungkinan meningokel atau meningoensefalokel. Dulu diduga predisposisi timbulnya polip nasi ialah adanya rinitis alergi atau penyakit atopi, tetapi makin banyak penelitian yang tidak mendukung teori ini dan para ahli sampai saat ini menyatakan bahwa etiologi polip nasi masih belum diketahui dengan pasti. Polip nasi lebih banyak ditemukan pada penderita asma nonalergi (13%) dibanding penderita asma alergi (5%). Polip nasi terutama ditemukan pada usia dewasa dan lebih sering pada laki – laki, dimana rasio antara laki – laki dan perempuan 2:1 atau 3:1. Penyakit ini ditemukan pada seluruh kelompok ras. Prevalensi polip hidung dilaporkan 1-2% pada orang dewasa di Eropa (Hosemann, 1994) dan 4,3% di Finlandia (Hedman, 1999). Jarang ditemukan pada anak- anak. biasanya polip hidung ditemukan pada umur 20 tahun.

Oleh karena itu, penting bagi perawat dan mahasiswa perawat untuk mendalami segala hal tentang polip. Sehingga nantinya bisa ditegakkan diagnosa yang tepat, beserta asuhan keperawatan yang akan diberikan.

1.2.       Rumusan Masalah

1.2.1.         Bagaimana konsep  polip?

1.2.2.         Bagaimana asuhan keperawatan untuk klien yang menderita polip?

 

1.3.       Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Menjelaskan konsep dan asuhan keperawatan pada penderita polip.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.1.                Mengidentifikasikan definisi dari polip

1.3.2.                Mengidentifikasikan anatomi dan fisiologi organ penghidu

1.3.3                 Mengidentifikasikan etiologi, patofisiologi, dan manifestasi polip serta segala hal yang berkaitan dengan penyakit tersebut.

1.3.4                 Mengidentifikasikan asuhan keperawatan yang tepat bagi  klien penderita polip.

 

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.       Definisi

Polip hidung adalah massa lunak, berwarna putih atau keabu-abuan yang terdapat dalam rongga gidung. Paling sering berasal dari sinus etmoid, multiple, dan bilateral. Biasanya pada orang dewasa. Pada anak mungkin merupakan gejala kistik fibrosis.

Polip konka adalah polip hidung yang berasal dari sinus maksila yang keluar melalui rongga hibung dan membesar di konka dan nasofaring.( Mansoer ,1999) 

Ada suatu tumbuhan di rongga hidung yang disebut polip hidung. Polip ialah suatu sumbatan, tetapi sifatnya lain dari tumor. (Iskandar, 1993)

Polip hidung ialah masa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam rongga hidung, berwarna putih keabu-abuan, yang terjadi akibat inflamasi mukosa.(Endang, 2003)

Polip nasi ialah massa lunak yang bertangkai di dalam rongga hidung yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Permukaannya licin, berwarna putih keabu-abuan dan agak bening karena mengandung banyak cairan. Bentuknya dapat bulat atau lonjong, tunggal atau multipel, unilateral atau bilateral. (Anonim, 2010)

 

2.2.       Etiologi

Terjadi akibat reaksi hipertensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung. Polip dapat timbul pada penderita laki-laki maupun perempuan, dari usia anak-anak sampai usia lanjut. Bila ada polip pada anak di bawah usia 2 tahun, harus disingkirkan kemungkinan meningokel atau meningoensefalokel.

Dulu diduga predisposisi timbulnya polip nasi ialah adanya rinitis alergi atau penyakit atopi, tetapi makin banyak penelitian yang tidak mendukung teori ini dan para ahli sampai saat ini menyatakan bahwa etiologi polip nasi masih belum diketahui dengan pasti.

Polip disebabkan oleh reaksi alergi atau reaksi radang. Bentuknya bertangkai, tidak mengandung pembuluh darah. Di hidung polip dapat tumbuh banyak, apalagi bila asalnya dari sinus etmoid. Bila asalnya dari sinus maksila, maka polip itu tumbuh hanya satu, dan berada di lubang hidung yang menghadap  ke nasofaring (konka). Keadaan ini disebut polip konka. Polip konka biasanya lebih besar dari polip hidung. Polip itu harus dikeluarkan, oleh karena bila tidak, sebagai komplikasinya dapat terjadi sinusitis. Polip itu dapat tumbuh banyak, sehingga kadang-kadang tampak hidung penderita membesar, dan apabila penyebarannya tidak diobati setelah polip dikeluarkan, ia dapat tumbuh kembali. Oleh karena itu janganlah bosan berobat, oleh karena seringkali seseorang dioperasi untuk menegluarkan polipnya berulang-ulang.

Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip antara lain :

a)      Alergi terutama rinitis alergi.

b)      Sinusitis kronik.

c)      Iritasi.

d)     Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan hipertrofi konka.

2.3.       Patofisiologi

Pembentukan polip sering diasosiasikan dengan inflamasi kronik, disfungsi saraf otonom serta predisposisi genetic. Menurut teori Bemstein, terjadi perubahan mukosa hidung akibat peradangan atau aliran udara yang bertubulensi, terutama di daerah sempit di kompleks ostiomeatal. Terjadi prolaps submukosa yang diikuti oleh reepitelisasi dan pembentukan kelanjar baru. Juga terjadi peningkatan penyerapan natrium oleh permukaan sel epitel yang berakibat retensi air sehingga terbentuk polip.

Teori lain mengatakan karena ketidak seimbangan saraf vasomotor terjadi peningkatan permeabilitas kapiler dan gangguan regulasi vascular yang mengakibatkan dilepasnya sitokin-sitokin dari sel mast, yang akan menyebabkan edema dan lama-lama menjadi polip.

Bila proses terus berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar menjadi polip dan kemudian akan turun ke rongga hidung dengan membentuk tangkai.

Histopatologi polip nasi Secara makroskopik polip merupakan massa dengan permukaan licin, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna pucat keabu-abuan, lobular, dapat tunggal atau multipel dan tidak sensitif (bila ditekan/ditusuk tidak terasa sakit). Warna polip yang pucat tersebut disebabkan oleh sedikitnya aliran darah ke polip. Bila terjadi iritasi kronis atau proses peradangan warna polip dapat berubah menjadi kemerah-merahan dan polip yang sudah menahun warnanya dapat menjadi kekuning-kuningan karena banyak mengandung jaringan ikat.

Tempat asal tumbuhnya polip terutama dari tempat yang sempit di bagian atas hidung, di bagian lateral konka media dan sekitar muara sinus maksila dan sinus etmoid. Di tempat-tempat ini mukosa hidung saling berdekatan. Bila ada fasilitas pemeriksaan dengan endoskop, mungkin tempat asal tangkai polip dapat dilihat. Dari penelitian Stammberger didapati 80% polip nasi berasal dari celah antara prosesus unsinatus, konka media dan infundibulum.

Ada polip yang tumbuh ke arah belakang dan membesar di nasofaring, disebut polip koana. Polip koana kebanyakan berasal dari dalam sinus maksila dan disebut juga polip antro-koana. Menurut Stammberger polip antrokoana biasanya berasal dari kista yang terdapat pada dinding sinus maksila. Ada juga sebagian kecil polip koana yang berasal dari sinus etmoid posterior atau resesus sfenoetmoid.

Secara mikroskopis tampak epitel pada polip serupa dengan mukosa hidung normal yaitu epitel bertingkat semu bersilia denagn submukosa yang sembab. Sel-selnya terdiri dari limfosit, sel plasma, eosinofil, netrofil dan makrofag. Mukosa mengandung sel-sel goblet. Pembuluh darah, saraf dan kelenjar sangat sedikit. Polip yang sudah lama dapat mengalami metaplasia epitel karena sering transisional, kubik atau gepeng berlapis keratinisasi.

Berdasarkan jenis sel peradanganya, polip dikelompokkan menjadi 2, yaitu polip tipe eosinofilik dan tipe neutrofilik.

2.4.       Manifestasi Klinis

Gejala utama yang ditimbulkan oleh polip nasi adalah hidung tersumbat. Sumbatan ini tidak hilang timbul dan makin lama makin memberat. Pada sumbatan yang hebat dapat menyebabkan timbulnya gejala hiposmia bahkan anosmia. Bila polip ini menyumbat sinus paranasal, akan timbul sinusitis dengan keluhan nyeri kepala dan rhinore. Bila penyebabnya adalah alergi, maka gejala utama adalah bersin dan iritasi di hidung.

Sumbatan hidung yang menetap dan semakin berat dan rinorea. Dapat terjadi sumbatan hiposmia atau anosmia. Bila menyumbat ostium, dapat terjadi sinusitis dengan ingus purulen. Karena disebabkan alergi, gejala utama adalah bersin dan iritasi di hidung.

Pada pemeriksaan klinis tampak massa putih keabu-abuan atau kuning kemerah-merahan dalam kavum nasi. Polip bertangkai sehingga mudah digerakkan, konsistensinya lunak, tidak nyeri bila ditekan, mudah berdarah, dan tidak mengecil pada pemakaian vasokontriktor.

Pada rhinoskopi anterior polip nasi sering harus dibedakan dari konka hidung yang menyerupai polip (konka polipoid). Perbedaannya:

              Polip

      Konka polipoid

Bertangkai

Tidak bertangkai

Mudah digerakkan

Sukar digerakkan

Tidak nyeri tekan

Nyeri bila ditekan dengan pinset

Tidak mudah berdarah

Mudah berdarah

Pada pemakaian vasokonstriktor tidak mengecil

Dapat mengecil dengan vasokonstriktor

 

 

Polip pada hidung dengan warna keabu- abuan

 

Gambar masa polip

 

2.5.       Pemeriksaan Fisik

Polip nasi yang massif dapat menyebabkan deformitas hidung luar sehingga hidung tampak mekar karena pelebar batang hidung. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior terlihat sebagai massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius dan mudah digerakkan.

Pembagian stadium polip menurut Mackay dan Lund (1997),

Stadium 1 : polip masi terbatas di meatus medius

Stadium2 : polip sudah keluar dari meatus medius, tampak di rongga hidung tapi belum memenuhi rongga hidung

Stadium 3 : polip yang massif

2.6.       Pemeriksaan Diagnostik

Foto polos sinus paranasal (posisi Waters,AP, Caldwell dan lateral) dapat memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara-cairan di dalam sinus, tetapi kurang bermanfaat pada kasus polip. Pemeriksaan tomografi computer (TK, CT scan) sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan pada kompleks ostiomeatal. TK terutama diindikasikan pada kasus polip yang gagal diobati dengan terapi medikamentosa, jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi.

2.5.1.   Naso-endoskopi

Adanya fasilitas endoskop (teleskop) akan sangat membantu diagnosis kasus polip yang baru. Polip stadium 2 kadang-kadang tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan nasoendoskopi.Pada kasus polip koanal juga sering dapat dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila

2.5.2.   Pemeriksaan Radiologi

Foto polos sinus paranasal (posisi Waters, AP, Caldwell dan lateral) dapat memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara-cairan di dalam sinus, tetapi sebenarnya kurang bermafaat pada kasus polip nasi karena dapat memberikan kesan positif palsu atau negatif palsu, dan tidak dapat memberikan informasi mengenai keadaan dinding lateral hidung dan variasi anatomis di daerah kompleks ostio-meatal. Pemeriksaan tomografi komputer (TK, CT scan) sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan pada kompleks ostiomeatal. TK terutama diindikasikan pada kasus polip yang gagal diobati dengan terapi medikamentosa, jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi.Biasanya untuk tujuan penapisan dipakai potongan koronal, sedangkan pada polip yang rekuren diperlukan juga potongan aksial

 

2.6         Penatalaksanaan

Tujuan utama pengobatan pada kasus polip nasi adalah menghilangkan keluhan-keluhan, mencegah komplikasi dan mencegah rekurensi polip.

Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga polipektomi medika mentosa. Dapat diberikan topical atau sistemik. Polip tipe eosinofilik memberikan respons yang lebih baik terhadap pengobatan kortikosteroid intranasal dibandingkan polip tipe neurotrofilik.

Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang sangat massif dipertimbangkan untuk terapi bedah. Dapat dilakukan ekstraksi polip (polipektomi) menggunakan senar polip atau cumin dengan analgesic local, etmoidektomi intranasal atau etmoidektomi ekstranasal untuk polip etmoid, operasi Caldwell-Luc  untuk sinus maksila. Yang terbaik ialah bila tersedia fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan BSEF (bedah Sinus Endoskopi Fungsional). 

Bila polip masih kecil, dapat diobati secara konservatif dengan kortikosteroid sistemik atau oral, misalnya prednisone 50mg/hari atau deksamentosa selama 10 hari kemudian diturunkan perlahan. Secar local dapat disuntikkan ke dalam polip, misalnya triamsinolon asetonid atau predsinolon 0,5 ml tiap 5-7 hari sekali sampai hilang. Dapat dipakai secara topical sebagai semprot hidung, misalnya beklometason dipropionat. Bila sudah besar, dilakukan ekstraksi polip dengan senar. Bila berualang dapat dirujuk untuk operasi etmoidektomi intranasal atau ekstranasal

Pengobatan juga perlu ditunjukkan pada penyebabnya, dengan menghindari allergen penyebab.

Ada tiga macam penanganan polip nasi yaitu :

a)      Cara konservatif

b)      Cara operatif

c)      Kombinasi keduanya.

Cara konservatif atau menggunakan obat- obatan yaitu menggunakan glukokortikoid yang merupakan satu- satunya kortikosteroid yang efektif, terbagi atas kortikosteroid topical dan kortikosteroid sistemik. Kortikosteroid topical (long term topical treatment) diberikan dalam bentuk tetes atau semprot hidung tiak lebih dari 2 minggu. Kortikosteroid sistemik (short term systemic treatment) dapat diberikan secara oral maupun suntikan depot. Untuk preparat oral dapat diberikan prednisolon atau prednisone dengan dosis 60 mg untuk empat hari pertama, selanjutnya ditappering off 5 mg/hr sampai hari ke-15 dengan dosis total 570 mg. Suntikan depot yang dapat diberikan adalah methylprednisolon 80 mg atau betamethasone 14 mg setiap 3 bulan.

Cara operatif dapat berupa polipektomi intranasal, polipektomi intranasal dengan ethmoidektomi, transantral ethomiodektomi dan sublabial approach (Caldweel-luc operation), frontho-ethmoido- sphenoidektomi eksternal dan endoskopik polipektomi dan bedah sinus

 

2.7.       Komplikasi

Satu buah polip jarang menyebabkan komplikasi, tapi dalam ukuran besar atau dalam jumlah banyak (polyposis) dapat mengarah pada akut atau infeksi sinusitis kronis, mengorok dan bahkan sleep apnea – kondisi serius nafas dimana akan stop dan start bernafas beberapa kali selama tidur. Dalam kondisi parah, akan mengubah bentuk wajah dan penyebab penglihatan ganda/berbayang. 

 

2.8.       Prognosis

Prognosis dan perjalanan alamiah dari polip nasi sulit dipastikan. Terapi medis untuk polip nasi biasanya diberikan pada pasien yang tidak memerlukan tindakan operasi atau yang membutuhkan waktu lama untuk mengurangi gejala. Dengan terapi medikamentosa, jarang polip hilang sempurna. Tetapi hanya mengalami pengecilan yang cukup sehingga dapat mengurangi keluhan. Polip yang rekuren biasanya terjadi setelah pengobatan dengan terapi medikamentosa maupun pembedahan.

 DOWNLOAD : WOC POLIP

 

BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1.       Pengkajian

Anamnesa

Data demografi  

Nama                     :           Tn. RJ

Umur                     :           27 th

Jenis kelamin         :           Laki-Laki

Status                    :           Kawin

Agama                   :           islam

Suku bangsa          :           jawa

Pendidikan                        :           Sarjana

Pekerjaan               :           swasta

Alamat                  :           kenjeran baru 2A

Dx medis               :           Polip

 

Riwayat penyakit sekarang : klien merasaan buntu pada hidung dan nyeri kronis pada hidung.

Keluhan utama: sulit bernapas.

a)      Riwatan penyakit dahulu: Klien memiliki riwayat penyakit sinusitis, rhinitis alergi, serta riwayat penyakit THT. Klien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma. Selain itu, klien pernah menderita sakit gigi geraham.

b)      Riwayat penyakit keluarga: –

c)       Riwayat psikososial

–        Intrapersonal : klien merasa cemas akibat nyeri yang kronis.

–        Interpersonal : gangguan citra diri yang berhubungan dengan suara sengau akibat massa dalam hidung.

 

d)        Pemeriksaan fisik persistem 

1)      B1 (breath): RR dapat meningkat atau menurun, terjadi perubahan pola napas akibat adanya massa yang membuntu jalan napas, adanya suara napas tambahan seperti ronchi akibat penumpukan secret, serta terlihat adanya otot bantu napas saat inspirasi

2)       B2 (blood): –

3)       B3 (brain): adanya nyeri kronis akibat pembengkakan pada mukosa, gangguan penghidu atau penciuman

4)       B4 (bladder): terjadi penurunan intake cairan

5)       B5 (bowel): nafsu makan menurun, berat badan turun, klien terlihat lemas

6)       B6 (bone): –

3.2.       Analisa Data

 

No

Data

Etiologi

Masalah

1

DS: nafsu makan berkurang

DO: berat badan turun, porsi makan tidak habis

 

Polip

 

Penurunan indera penciuman

 

Gangguan persepsi sensori: penciuman

2

DS: klien merasa ada sumbatan di hidung

DO : RR 24 x/menit, pola nafas tidak teratur, terlihat adanya otot bantu napas saat inspirasi, adanya suara napas tambahan (ronchi)

 

Adanya masa

 

aliran/drainase sekret tertahan

 

Hidung tersumbat

 

Bersihan jalan nafas tidak efektif

3.

DS:klien merasa lemas, nafsu makan turun.

DO:kurus, BB menurun (dari 65 kg menjadi 61 kg), albumin << 3,2  , Hb << 11  , rambut terlihat memerah pada anak-anak, lapisan subkutan tipis.

Hidung tersumbat

 

Penciuman terganggu

 

Napsu makan berkurang

 

Nutrisi kurang dari kebutuhan

4.

DS: klien merasa lemas

DO: mukosa mulut kering, penurunan turgor kulit.

Hidung tersumbat

 

Menghambat drainase paranasal

 

Secret terakumulasi
dalam sinus

 

Tempat yang untuk pertumbuhan kuman

 

 

Menekan jaringan disekitar

 

Penurunan O2 ke jaringan sekitar

 

Hipoksia jaringan

 

Iskemik

 

Kerusakan jaringan

 

Tempat masuk kuman

 

Resiko infeksi

5

DS: laporan keluarga terhadap adanya perubahan pola interaksi pasien , ketidaknyamanan terhadap situasi sosial

DO: teramati pada pasien adanya kegagalan perilaku interaksi sosial

Hidung tersumbat

 

Suara sengau

Hambatan interaksi

6

DS: klien gelisah

DO: RR meningkat

Pelebaran batang hidung

 

Nyeri

 

Gelisah

Ansietas

7

DS: klien mengeluh nyeri kadang kadang saat bernafas

DO: skala nyeri 4,adanya peradangan mukosa hidung

Adanya mukosa/ pelebaran batang hidung

 

Nyeri pada hidung

 

Infeksi

Nyeri kronis

 

 

3.3.       Diagnosa Keperawatan

 

  1. Gangguan persepsi sensori: pembau/penghidu
  2. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d adanya masa dalam hidung
  3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d menurunnya nafsu makan
  4. Resiko infeksi b.d terhambatnya drainase sekret
  5. Hambatan interaksi sosial b.d suara sengau yang timbul akibat sumbatan polip
    1. Ansietas b.d kegelisahan adanya sumbatan pada hidung
  6. Nyeri kronis b.d penekanan [polip pada jaringan sekitar

 

3.4.       Intervensi dan Rasional

  1. Gangguan perseopsi sensori pembau/penghidu

Tujuan : mengembalikan fungsi penciuman ke normal

Kriteria Hasil : individu akan mendemonstrasikan penurunan gejala beban sensori berlebih yang ditandai dengan penurunan persepsi penciuman

INTERVENSI

RASIONAL

  • Anjurkan klien untuk mengubah posisi secara sering,meskipun hanya mengangkat satu sisi tubuh dengan sedikit berulang

 

  • Rujuk ke perubahan proses pola berpikir yang berhubungan dengan ketidakmampuan mengevaluasi realitas untuk mengetahui intervensi tambahan
  • Dengan meningkatkan stimulus sensori yang bervariasi hal ini dapat membantu mencegah perubahan akibat kemunduran sensori yang lain
  • Dengan terlebih dahulu menjelaskan tentang stimulus sensori yang akan dialami individu, kondisi distress, tekanan dan konfusi akan berkurang
  • Kualitas/kuantitas input sensori berkurang akibat immobilitas/pengurangan
 

 

  1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d adanya massa dalam hidung

Tujuan : Bersihan jalan nafas menjadi efektif dalam 10 – 15 menit setelah dilakukan tindakan.

Kriteria Hasil :

–          RR normal (16 – 20 x/menit)

–          Suara napas vesikuler

–          Pola napas teratur tanpa menggunakan otot bantu pernapasan

–          Saturasi oksigen 100%

INTERVENSI

RASIONAL

Observasi:

  • Observasi RR tiap 4 jam, bunyi napas, kedalaman inspirasi, dan gerakan dada
  • Auskultasi bagian dada anterior dan posterior

 

  • Pantau status oksigen pasien

 

Mandiri :

  • Berikan posisi fowler atau semifowler tinggi

 

  • Lakukan nebulizing

 

  • Berikan O2 (oksigenasi)

 

 

 

 

Kolaborasi:

  • Berikan obat sesuai dengan indikasi mukolitik, ekspetoran, bronkodilator.

 

 

 

 

 

 

Edukasi:

  • Ajarkan batuk efektif pada pasien

 

 

  • Ajarkan terapi napas dalam pada pasien

Rasional:

  • Mengetahui keefektifan pola napas

 

  • Mengetahui adanya penurunan atau tidak adanya ventilasi dan adanya bunyi tambahan
  • Mencegah terjadinya sianosis dan keparahan

 

 

  • Mencegah obstruksi/aspirasi, dan meningkatkan ekspansi paru
  • Membantu pengenceran sekret
  • Mengkompensasi ketidakadekuatan O2 akibat inspirasi yang kurang maksimal

 

 

  • Mukolitik untuk menurunkan batuk, ekspektoran untuk membantu memobilisasi sekret, bronkodilator menurunkan spasme bronkus dan analgetik diberikan untuk meningkatkan kenyamanan

 

  • Membantu pasien untuk mengeluarkan sekret yang menumpuk

 

  • Membantu melapangkan ekspansi paru

 

  1. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan b.d menurunnya nafsu makan

Tujuan : Menunjukkan peningkatan nafsu makan setelah dilakukan tindakan dalam 3 x 24 jam.

Kriteria hasil :

–          Klien tidak merasa lemas.

–          Nafsu makan klien meningkat

–          Klien mengalami peningkatan BB minimal 1kg/2minggu

–          Kadar albumin > 3.2, Hb > 11

INTERVENSI

RASIONAL

Observasi:

  • Pastikan pola diet biasa pasien, yang disukai atau tidak disukai.
  • Pantau masukan dan pengeluaran dan berat badan secara pariodik.
  • Kaji turgor kulit pasien

 

  • Pantau nilai laboratorium, seperti Hb, albumin, dan kadar glukosa darah

Mandiri:

  • Pertahankan berat badan dengan memotivasi pasien untuk makan
  • Menyediakan makanan yang dapat meningkatkan selera makan pasien
  • Berikan makanan kesukaan pasien
  • Ciptakan lingkungan yang menyenangkan untuk makan (misalkan, pindahkan barang- barang yang tidak enak dipandang)
  • Dorong makan sedikit demi sedikit dan sering dengan makanan tinggi kalori dan tinggi karbohidrat
  • Auskultasi bising usus, palpasi/observasi abdomen

 

Kolaborasi:

  • Kolaborasi dengan tim analis medis untuk mengukur kandungan albumin, Hb, dan kadar glukosa darah.
  • Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan diet seimbang TKTP pada pasien

 

  • Diskusikan dengan dokter mengeni kebutuhan stimulasi nafsu makan atau makanan pelengkap

Edukasi:

  • Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya
  • Ajarkan pada pasien dan keluarga tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal
  • Dukung keluarga untuk membawakan makanan favorit pasien di rumah

 

  • Untuk mendukung peningkatan nafsu makan pasien
  • Mengetahui keseimbangan intake dan pengeluaran asuapan makanan
  • Sebagai data penunjang adanya perubahan nutrisi yang kurang dari kebutuhan
  • Untuk dapat mengetahui tingkat kekurangan kandungan Hb, albumin, dan glukosa dalam darah

 

  • Mempertahankan berat badan yang ada agar tidak semakin berkurang
  • Meningkatkan nafsu makan pasien
  • Merangsang nafsu makan pasien
  • Meningkatkan rasa nyaman pasien untuk makan

 

 

 

  • Meningkatkan asupan makanan pada pasien

 

  • Mengetahui adanya bising atau peristaltik usus yang mengindikasikan berfungsinya saluran cerna

 

  • Mengetahui kandungan biokimiawi darah pasien

 

 

  • Memberikan asupan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan pasien

 

 

  • Memberi rangsangan pada pasien untuk menimbulkan kembali nafsu makannya

 

 

  • Agar pasien mengetahui kebutuhan nutrisinya dan cara memenuhinya yang sesuai dengan kebituhan
  • Agar pasien mendapatkan gizi yang seimbang dengan harga yang relatif terjangkau
  • Merangsan nafsu makan pasien

 

  1. Resiko infeksi b.d terhambatnya drainase sekret.

Tujuan : Meningkatnya fungsi indera penciuman klien

Kriteria hasil:

–          Klien tidak merasa lemas

–          Mukosa mulut klien tidak kering

INTERVENSI

RASIONAL

Observasi:

  • Pantau adanya gejala infeksi

 

  • Kaji faktor yang dapat meningkatkan serangan infeksi

 

Mandiri :

  • Awasi suhu sesuai indikasi
  • Pantau suhu lingkungan

 

 

Health Education :

  • Menjaga lingkungan, ventilasi, dan juga pencahayaan dirumah tetap bersih

 

 

 

Rasional

  • Menjaga timbulnya infeksi
  • Menjaga perilakudan keadaan yang mendukung terjadinya infeksi

 

Rasional

  • Reaksi demam indicator adanya infeksi lanjut
  • Suhu ruangn atau jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal

 

  1. Hambatan interaksi sosial b.d suara sengau yang timbul akibat sumbatan polip

Tujuan: peningkatan sosialisasi

Kriteria Hasil:

–          Menunjukkan keterlibatan sosial

–          Menunjukkan penampilan peran

INTERVENSI

RASIONAL

Observasi:

  • Kaji pola interaksi antara pasien dengan orang lain

 

 

Mandiri:

  • Tetapkan jadwal interaksi.

 

  • Identifikasi perubahan perilaku yang spesifik

 

  • Libatkan pendukung sebaya dalam memberikan umpan balik pada pasien dalam interaksi sosial

Kolaborasi:

  • Kolaborasi dengan psikolog untuk memberikan motivasi diri pada pasien

Edukasi:

  • Berikan informasi tentang sumber-sumber di komunitas yang akan membantu pasien untuk melanjutkan dengan meningkatkan interaksi sosial setelah pemulangan

 

  • Mengetahui tingkat sosialisasi pasien dengan orang lain.

 

  • Pasien dapat beristirahat dan bersosialisasi dengan maksimal.

 

  • Perawat dapat mengerti kondisi psikis pasien.

 

  • Keberadaan pendukung sebaya akan menjadi teman untuk bersosialisasi.

 

  • Motivasi diperlukan dalam mengubah persepsi pasien menjadi lebih baik.

 

 

  • Pasien dapat meningkatkan sosialisasi dengan  dengan baik pada komunitas masyarakat dan sekitarnya.

 

 

 

  1. Ansietas b.d kegelisahan adanya sumbatan pada hidung

Tujuan : pengurangan ansietas

Kriteria hasil :

–          Pasien tidak menunjukkan kegelisahan

–          Pasien dapat mengkomunikasikan kebutuhan dan perasaan negatif

–          Tidak terjadi insomnia

INTERVENSI

RASIONAL

Observasi:

  • Kaji tingkat kecemasan pasien

 

  • Tanyakan kepada pasien tentang kecemasannya

Mandiri:

  • Ajak pasien untuk berdiskusi masalah penyakitnya dan memberikan kesempatan kepada pasien untuk menentukan pilihan
  • Berikan posisi yang nyaman pada pasien

 

  • Berikan hiburan kepada pasien

Kolaborasi:

  • Berikan obat- obatan penenang jika pasien mengalami insomnia

Edukasi:

  • Sediakan informasi faktual menyangkut diagnosis, perawatan, dan prognosis
  • Ajarkan pasien tentang penggunaan teknik relaksasi

 

  • Jelaskan semua prosedur, termasuk sensasi yang biasanya dirasakan selama prosedur

 

  • Mengetahui tingkat kecemasan pasien

 

  • Mengetahui penyebab kecemasan pasien

 

  • Meningkatkan motivasi diri pasien

 

 

  • Tingkat kenyamanan pasien dapat mempengaruhi kecemasan pada pasien

 

  • Hiburan akan mengalihkan fokus pasien dari kecemasannya

 

  • Memberikan bantuan farmakologik untuk menenangkan pasien

 

  • Memberi pengetahuan yang faktual pada pasien

 

  • Relaksasi membantu menurunkan kecemasan pada pasien

 

  • Kejelasan mengenai prosedur dapan mengurangi kecemasan pasien

 

 

  1. Nyeri kronis b.d penekanan polip pada jaringan sekitar

Tujuan : nyeri berkurang atau hilang

Kriteria hasil :

–          Klien mengungkapakan kualitas nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang

–          Klien tidak menyeringai kesakitan

–          Tidak ada kegelisahan dan ketegangan otot

–          Tidak terjadi perubahan pola tidur pada pasien

INTERVENSI

RASIONAL

Observasi:

  • Kaji tingkat nyeri klien

 

  • Observasi tanda-tanda vital dan keluhan klien

 

  • Kaji pola tidur , pola makan, serta pola aktivitas pasien

 

Mandiri:

  • Ajarkan tekhnik relaksasi dan distraksi (misal: baca buku atau mendengarkan music)

 

Kolaborasi:

  • Kolaborasi dengan tim medis untuk terapi konservatif: pemberian obat acetaminofen; aspirin, dekongestan hidung; pemberian analgesik

Edukasi:

  • Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien serta keluarganya
  • Jelaskan pada keluarga dan pasien bahwa dalam penatalaksanaan ini membutuhkan kepatuhan penderita utk menghindari penyebab / pencetus alergi

 

  • Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya.
  • Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien. TTV dapat menunjukkan kualitas nyeri dan respon nyeri oleh tubuh pasien tersebut
  • Untuk mengetahui pengaruh nyeri yang timbul pada pola kesehatan pasien

 

  • Klien mengetahui teknik distraksi dan relaksasi sehingga dapat mempraktekannya bila mengalami nyeri.

 

  • Menghilangkan/ mengurangi keluhan nyeri klien. Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri.

 

  • Memberikan pengetahuan pada klien dan keluarga
  • Untuk memaksimalkan tindakan (mengurangi ketidak patuhan)

 

BAB IV

PENUTUPAN

4.1.  Simpulan

Polip nasi ialah massa lunak yang bertangkai di dalam rongga hidung yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Permukaannya licin, berwarna putih keabu-abuan dan agak bening karena mengandung banyak cairan. Bentuknya dapat bulat atau lonjong, tunggal atau multipel, unilateral atau bilateral.

Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif

atau reaksi alergi pada mukosa hidung. Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama. Penyebab tersering adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi.

Diagnos keperawatan yang mungkin ditegakkan pada klien penderita polip antara lain:

  1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d adanya masa dalam hidung
  2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d menurunnya nafsu makan
  3. Resiko infeksi b.d penurunan fungsi indra penciuman
    1. Hambatan interaksi sosial b.d suara sengau yang timbul akibat sumbatan polip
    2. Ansietas b.d kegelisahan adanya sumbatan pada hidung
    3. Nyeri kronis b.d infeksi pada mukosa hidung (sinusitis kronis dan rinitis alergi)

4.2.  Saran

Mahasiswa keperawatan dan seseorang yang profesinya sebagai perawat diharapkan mampu memahami dan menguasai berbagai hal tentang polip seperti etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, dan lainnya, serta asuhan keperawatan yang tepat bagi pasien yang menderita polip, agar gangguan pada daerah hidung ini dapat teratasi dengan baik.

 

Daftar Pustaka

 

Arief Mansoer dkk. 1999. Kapita selekta kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius fakultas kedokteran universitas Indonesia

Doenges, E. Mari Lynn. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Jakarta: EGC

Greenberg J, 1998. Current Management of Nasal Polyposis. Diakses dari http://www.bcm.com

Jual, linda.1998.Rencana asuhan dan dokumentasi keperawatan-diagnosa keperawatan dan masalah kolaborasi. Jakarta : EGC

McClay JE, 2007. Nasal Polyps. Diakses dari http://www.emedicine.com
Szema AM, Monte DC, 2005. Nasal Polyposis: What Every Chest Physician

Prof H.Nurbaiti Iskandar. 1993. dokter DSTHT. Jakarta : Fakultas kedokteran universitas Indonesia . balai penerbit FKUI.

tumor hidung

4 Des
 
TUMOR HIDUNG
Lalu W.J. HardiPENDAHULUAN
 Tumor hidung dan sinus paranasal pada umumnya jarangditemukan, baik yang jinak maupun yang ganas. Di Indonesia dan diluar negeri, kekerapan jenis yang ganas hanya sekitar 1 % darikeganasan seluruh tubuh atau 3% dari seluruh keganasan di kepaladan leher
5
.Hidung dan sinus paranasal atau juga disebut sinonasalmerupakan rongga yang dibatasi oleh tulang-tulang wajah yangmerupakan daerah yang terlindung sehingga tumor yang timbul didaerah ini sulit diketahui secara dini. Asal tumor primer juga sulitditentukan, apakah dari hidung atau sinus karena biasanya pasienberobat dalam keadaan penyakit telah lanjut dan tumor sudahmemenuhi rongga hidung dan seluruh sinus
5
.Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwapenyakit hidung dan sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 polapenyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan dirumah sakit
3
.Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1996yang diadakan oleh Binkesmas bekerja sama dengan PERHATI danBagian THT RSCM mendapatkan data penyakit hidung dari 7 propinsi.Data dari Divisi Rinologi Departemen THT RSCM Januari-Agustus 2005menyebutkan jumlah pasien rinologi pada kurun waktu tersebut adalah435 pasien Dari jumlah tersebut 30% mempunyai indikasi operasiBSEF
1
.
TINJAUAN PUSTAKA
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
1
 
 
1.Pengertian
 Tumor hidung adalah pertumbuhan ke arah ganas yangmengenai hidung dan lesi yang menyerupai tumor pada ronggahidung, termasuk kulit dari hidung luar dan vestibulum nasi
2
.
2.Epidemiologi dan etiologi
Insiden tertinggi tumor ganas hidung dan sinus ditemukan di Jepang yaitu 2 per 10.000 penduduk pertahun. Di bagian THT FKUI-RSCM, keganasan ini ditemukan pada 10,1% dari seluruh tumorganas THT. Rasio penderita laki-laki banding wanita sebesar 2:1
5
.Etiologi tumor ganas hidung belum diketahui, tetapi didugabeberapa zat hasil industri merupakan penyebab antara lain nikel,debu kayu, kulit, formaldehid, kromium, minyak isopropyl dan lain-lain. Pekerja di bidang ini mendapat kemungkinan terjadi keganasanhidung dan sinus jauh lebih besar
5
.Banyak laporan mengenai kasus adeno-karsinoma sinusetmoid pada pekerja-pekerja industri penggergajian kayu danpembuatan mebel. Alkohol, asap rokok, makanan yang diasin ataudiasap diduga meningkatkan kemungkinan terjadi keganasan,sebaliknya buah-buahan dan sayuran mengurangi kemungkinanterjadi keganasan
5
.Di Amerika Serikat, insidensi tumor hidung tiap tahun kurangdari 1:100.000 penduduk, yang menyumbang sekitar 3% kankerdari saluran pernapasan atas. Di Jepang dan Uganda, frekuensitumor ini dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan AmerikaSerikat
6
.Kecuali untuk tumor non-epitel, tumor hidung ganas hampirtidak ditemukan pada anak-anak. Prevalensi tumor hidung ganasmeningkat sesuai umur yaitu 7:100.000 pada pasien dalam delapandekade
6
.
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
2
 
 
Rousch (1999) memperkirakan bahwa di atas 80% darisemua tumor ganas pada manusia dihubungkan denganlingkungan. Bagaimanapun perkiraan ini kemungkinan tinggi, buktiadanya penyebab lingkungan dari tumor hidung terutama padapasien-pasien yang terpapar nikel,
chromium, hydrocarbon danisopropyl oils
6
.Risiko kanker meningkat pada tukang kayu, tukang sepatudan boot, dan pembuat furniture. Karena kompleksnya paparanfaktor lingkungan pada kelompok ini, agen yang berperan sulitdiidentifikasi. Paparan hidrokarbon juga meningkatkan jugameningkatkan kanker hidung
6
.Sekitar 55% tumor hidung dan sinus berasal dari sinusmaxillary, 35% dari kavum nasi, 9% sinus ethmoid, dan 1% sinusfrontal dan sphenoid dan septum. Untuk tumor yang besar, asaltumor sulit untuk diidentifikasi
6
.
3.Jenis Histopatologi
Hampir seluruh jenis histopatologi tumor jinak dan ganasdapat tumbuh di daerah sinonasal. Termasuk tumor jinak epitelialyaitu adenoma dan papiloma, yang non-epitelial yaitu fibroma,angiofibroma, hemangioma, neurilemomma, osteoma, displasiafibrosa dan lain-lain. Disamping itu ada tumor odontogenik misalnyaameloblastoma atau adamantinoma, kista tulang dan lain-lain
5
. Tumor ganas epitelial adalah karsinoma sel skuamosa,kanker kelenjar liur, adenokarsinoma, karsinoma tanpa diferensiasidan lain-lain. Jenis non epitelial ganas adalah hemangioperisitoma,bermacam-macam sarkoma termasuk rabdomiosarkoma danosteogenik sarcoma ataupun keganasan limfoproliferatif seperti lim-foma malignum, plasmasitoma atau pun polimorfik retikulosis sering juga ditemukan di daerah ini
5
.
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
3
 
 
Beberapa jenis tumor jinak ada yang mudah kambuh atausecara klinis bersifat ganas karena tumbuh agresif mendestruksitulang, misalnya papiloma inverted, displasia fibrosa atau punameloblastoma. Pada jenis-jenis ini tindakan operasi harus radikal
5
.
4.Klasifikasi Tumor :1.Tumor Jinak 
 Tumor jinak tersering adalah papiloma skuamosa. Secaramakroskopis mirip dengan polip, tetapi lebih vaskuler, padat dantidak mengkilap. Ada 2 jenis papiloma, pertama eksofitik ataufungiform dan yang kedua endofitik disebut papiloma inverted.Papiloma inverted ini bersifat sangat invasive, dapat merusak jaringan sekitarnya. Tumor ini sangat cenderung untuk residif dan dapat berubah menjadi ganas. Lebih sering dijumpai padaanak laki-laki usia tua. Terapi adalah bedah radikal misalnyarinotomi lateral atau maksilektomi media
5
. Tumor jinak angiofibroma nasofaring seringbermanifestasi sebagai massa yang mengisi rongga hidungbahkan juga mengisi seluruh rongga sinus paranasal danmendorong bola mata ke anterior
5
.
2.Tumor Ganas
 Tumor ganas yang tersering adalah karsinoma selskuamosa (70%), disusul oleh karsinoma yang berdeferensiasidan tumor kelenjar
5
.Sinus maksila adalah yang tersering terkena (65-80%),disusul sinus etmoid (15-25%), hidung sendiri (24%), sedangkansinus sphenoid dan frontal jarang terkena
5
.Metastasis ke kelenjar leher jarang terjadi (kurang dari5%) karena rongga sinus sangat miskin dengan system limfakecuali bila tumor sudah menginfiltrasi jaringan lunak hidung danpipi yang kaya akan system limfatik
5
.
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
4
 
 
Metastasis jauh juga jarang ditemukan (kurang dari 10%)dan organ yang sering terkena metastasis jauh adalah hati danparu
5
.
3.Invasi Sekunder
a.Pituitary adenomasb.Chordomas
c.
Invasi sekunder lain (karsinoma nasofaring, meningioma,tumor odontogenik, neoplasma skeleton kraniofasial jinak danganas, tumor orbita dan apparatus lakrimal)
2
.
5.Pemeriksaan1.Gejala dan tanda
Gejala tergantung dari asal primer tumor serta arah danperluasannya. Tumor di dalam sinus maksila biasanya tanpagejala. Gejala timbul setelah tumor besar, sehingga mendesakatau menembus dinding tulang meluas ke rongga hidung, ronggamulut, pipi, orbita atau intrakranial
5
. Tergantung dari perluasan tumor, gejala dapat dikategorikansebagai berikut
5
:
1.
Gejala nasal. Gejala nasal berupa obstruksi hidungunilateral dan rinorea. Sekretnya sering bercampur darahatau terjadi epistaksis. Tumor yang besar dapat mendesaktulang hidung sehingga terjadi deformitas hidung. Khaspada tumor ganas ingusnya berbau karena mengandung jaringan nekrotik.
2.
Gejala orbital. Perluasan tumor kearah orbita menimbulkangejala diplopia, protosis atau penonjolan bola mata,oftalmoplegia, gangguan visus dan epifora.
3.
Gejala oral. Perluasan tumor ke rongga mulutmenyebabkan penonjolan atau ulkus di palatum atau diprosesus alveolaris. Pasien megeluh gigi palsunya tidak
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
5
 
 
pas lagi atau gigi geligi goyah. Seringkali pasien datang kedokter gigi karena nyeri di gigi, tetapi tidak sembuhmeskipun gigi yang sakit telah dicabut.
4.
Gejala fasial. Perluasan tumor ke depan akanmenyebabkan penonjolan pipi. Disertai nyeri, anesthesiaatau parestesia muka jika mengenai nervus trigeminus.
5.
Gejala intrakranial. Perluasan tumor ke intrakranialmenyebabkan sakit kepala hebat, oftalmoplegia dangangguan visus. Dapat disertai likuorea, yaitu cairan otakyang keluar melalui hidung. Jika perluasan sampai ke fossakranii media maka saraf otak lainnya bisa terkena. Jikatumor meluas ke belakang, terjadi trismus akibatterkenanya muskulus pterigoideus disertai anestesia danparestesia daerah yang dipersarafi nervus maksilaris danmandibularis.
2.Pemeriksaan Fisik 
Saat memeriksa pasien, pertama-tama perhatikan wajahpasien apakah terdapat asimetri atau tidak. Selanjutnya periksadengan seksama kavum nasi dan nasofaring melalui rinoskopianterior dan posterior. Permukaan yang licin merupakanpertanda tumor jinak sedangkan permukaan yang berbenjol-benjol, rapuh dan mudah berdarah merupakan pertanda tumorganas. Jika dinding lateral kavum nasi terdorong ke medialberarti tumor berada di sinus maksila
5
.Pemeriksaan nasoendoskopi dan sinuskopi dapatmembantu menemukan tumor pada stadium dini. Adanyapembesaran kelenjar leher juga perlu dicari meskipun tumor ini jarang bermetastasis ke kelenjar leher
5
.
3.Pemeriksaan Penunjang
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
6
 
 
Foto polos berfungsi sebagai diagnosis awal, terutama jikaada erosi tulang dan perselubungan padat unilateral, harusdicurigai keganasan dan dibuat suatu tomogram atau TK.Pemeriksaan MRI dapat membedakan jaringan tumor dengan jaringan normal tetapi kurang begitu baik dalam memperlihatkandestruksi tulang. Foto polos toraks diperlukan untuk melihatadanya metastasis tumor di paru
5
.
6.Diagnosis
Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaanhistopatologi. Jika tumor tampak di rongga hidung atau ronggamulut, maka biopsi mudah dan harus segera dilakukan. Biopsitumor sinus maksila, dapat dilakukan melalui tindakan sinoskopiatau melalui operasi Caldwel-Luc yang insisinya melalui sulkusginggivo-bukal
5
. Jika dicurigai tumor vaskuler, misalnya angofibroma, janganlakukan biopsi karena akan sangat sulit menghentikan perdarahanyang terjadi. Diagnosis adalah dengan angiografi
5
.
7.Terapi Tumor Hidung dan Sinus Paranasal
Bedah
 
tumor endonasal terdiri dari reseksi tumor dibawahkendali endoskop, diikuti dengan eksisi jaringan tumor dari jaringansehat sekitarnya. Semua ini memerlukan diagnostik gambaran TK yang adekuat sebelum operasi, diagnostik histologi, daninstrumentasi operasi yang tepat. Sangat diperlukan seorangoperator yang sangat menguasai anatomi lokal dan pengalamanyang komprehensif dalam melakukan bedah endoskopik.Sebelumnya pasien harus diberi penjelasan tentang prosedur yangakan dijalankan dan telah membuat
informed consent,
termasuk juga bila dibutuhkan perluasan pembedahan baik melalui rutebedah eksternal maupun transoral
4
.
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
7
 
 
Dalam memilih terapi bedah yang optimal, seorang ahliharus mempertimbangkan dengan seksama dalam memilihpendekatan endonasal daripada prosedur klasik yaitu melaluipendekatan transfasial, transoral, dan
midfacial degloving.
Pendekatan endonasal menghindari insisi eksternal dan internalserta mobilisasi jaringan, sehingga menghindari pembentukan parutyang tidak diinginkan, stenosis duktus lakrimalis, mukokel, danneuralgia. Komplikasi dan gejala ikutan yang dapat merugikanpasien lebih rendah, sehingga metode ini dapat diterima denganbaik
4
.Bermacam-macam klasifikasi untuk menentukan stadium yangdigunakan di Indonesia adalah klasifikasi UICC dan AJCC yang hanyaberlaku untuk karsinoma di sinus maksila, etmoid dan rongga hidungsedangkan untuk sinus sphenoid dan frontal tidak termasuk dalamklasifikasi ini karena sangat jarang ditemukan. Perlu diingat bahwakeganasan yang tumbuh seperti basalioma dan melanoma malignumdi kulit sekitar hidung dan sinus paranasal tidak termasuk dalamklasifikasi tumor hidung dan sinus paranasal.Perluasan tumor primer dikatagorikan dalam T1, T2, T3, dan T4.Paling ringan T1, tumor terbatas di mukosa sinus, paling berat T4,tumor meluas ke orbita, sinus sphenoid dan frontal dan atau ronggaintracranial.Metastasis kelenjar ke limfa leher regional dikatagorikan denganN0 (tidak diketemukan metastasis ke kelenjar limfa leher regional), N1(metastasis ke kelenjar limfa leher dengan ukuran diameter terbesarkurang atau sama dengan 3 centimeter (cm), N2 (diameter terbesarlebih dari 3 cm dan kurang dari 6 cm) dan N3 (diameter terbesar lebihdari 6 cm). metastasis jauh dikategorikan sebagai M0 (tidak adametastasis) dan M1 (ada metastasis).Pembagian sistem TNM menurut Simson sebagai berikut:
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
8
 
 
 T : Tumor. T—1 :a. Tumor pada dinding anterior antrum.b. Tumor pada dinding nasoantral inferior.c. Tumor pada palatum bagian anteromedial. T—2 :a. Invasi ke dinding lateral tanpa mengenai otot.b. Invasi ke dinding superior tanpa mengenai orbita. T—3 :a. Invasi ke m. pterigoid.b. Invasi ke orbitac. Invasi ke selule etmoid anterior tanpa mengenai laminakribrosa.d. Invasi ke dinding anterior dan kulit diatasnya. T—4 :a. Invasi ke lamina kribrosa.b. Invasi ke fosa pterigoid.c. Invasi ke rongga hidung atau sinus maksila kontralateral.d. Invasi ke lamina pterigoid.e. Invasi ke selule etmoid posterior.f. Ekstensi ke resesus etmo-sfenoid.N : Kelenjar getah bening regional.N—1: Klinis teraba kelenjar, dapat digerakkan.N—2 : Tidak dapat digerakkan.M : Metastasis.M—1 : Stadium dini, tumor terbatas di sinus.M—2 : Stadium lanjut, tumor meluas ke struktur yang berdekatan.Berdasarkan TNM ini dapat ditentukan stadium yaitu stadium dini(stadium 1 dan 2), stadium lanjut (stadium 3 dan 4). Lebih dari 90 %pasien datang dalam stadium lanjut dan sulit menentukan asal tumor
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
9
 
 
primernya karena hampir seluruh hidung dan sinus paranasal sudahterkena tumor.Stadium :Stadium 0T1sN0M0Stadium IT1N0M0Stadium IIAT2aN0M0Stadium IIBT1 T2a T2bN1N1N0,N1M0M0M0Stadium IIIT1 T2a,T2b T3N2N2N2M0M0M0Stadium IVa T4N0,N1,N2M0Stadium IVbSemua TN3M0Stadium IVcSemua TSemua NM1
DAFTAR PUSTAKA
1.
Anonim. 2006.
Data Poli Rawat Jalan Sub Bagian Rinologi 2000-2005
. Jakarta:
 
Bagian THT FKUI – RSUPN Dr. CiptoMangunkusumo.
2.
Cody, DeSanto et al. 2000.
Neoplasma of the Nasal Cavity inin Cummings – Otolaryngology – Head Neck Surgery 
 
3
rd 
ed 
.New York: Maple Vail Book Manufacturing Group Mosby-YearBook.
3.
Depkes RI. 2003.
Pola Penyakit 50 Peringkat UtamaMenurut DTD Pasien Rawat.
 Jakarta: Jalan Di Rumah SakitIndonesia Tahun 2003, Depkes RI.
4.
Hosemann W. 2001.
Role of Endoscopic Surgery in Tumor.In: Kennedy DW, Bolger WE, Zinreich SJ. Diseases of TheSinuses, Diagnosis and Management.
London: Hamilton.
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
10
 

 

5.
Roezin, A. et al. 2007.
Tumor Hidung dalam : Soepardi E,Iskandar N, eds
.,
Buku Ajar Ilmu Kesehatan TelingaHidung Tenggorok. Edisi ke-6.
Jakarta: BP FK UI.
6.
Rousch GC. 1999.
Epidemiology of Cancer of The Nose and Paranasal Sinuses -Current Concepts
 
in Cummings –Otolaryngology – Head Neck Surgery 
 
3
rd 
ed.

New York:Maple Vail Book Manufacturing Group Mosby-Year Book

Video 21 Nov

Video 21 Nov

askep klien dengan apendisitis akut

10 Nov

ASKEP KLIEN DENGAN APPENDICITIS AKUT

 

Definisi

Dalam pengertian ini ada beberapa pendapat anara lain :
Appendiks akut adalah peradangan dari appendiks vermiformis yang merupakan penyebab umum dari akut abdomen (Junaidi, dkk).

Appendisitis adalah peradangan dari suatu appendiks.
Appendisitis akut adalah keadaan yang disebabkan oleh peradangan yang mendadak pada suatu appendiks ( Baratajaya).

 

Anatomi Fisiologi
Embriologi appendiks berhubungan dengan caecum, tumbuh dari ujung inferiornya. Tonjolan appendiks pada neonatus berbentuk kerucut yang menonjol pada apek caecum sepanjang 4,5 cm. Pada orang dewasa panjang appendiks rata-rata 9 – 10 cm, terletak posteromedial caecum kira-kira 3 cm inferior valvula ileosekalis. Posisi appendiks bisa retrosekal, retroileal,subileal atau dipelvis, memberikan gambaran klinis yang tidak sama. Persarafan para simpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dari arteri appendikkularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis x, karena itu nyeri viseral pada appendiks bermula sekitar umbilikus. Perdarahan pada appendiks berasal dari arteri appendikularis yang merupakan artei tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya trombosis pada infeksi maka appendiks akan mengalami gangren.
Appendiks menghasilkan lendir 1 – 2 ml perhari yang bersifat basa mengandung amilase, erepsin dan musin. Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam bumen dan selanjutnya mengalir ke caecum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks berperan pada patofisiologi appendiks.

Imunoglobulin sekretor yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk appendiks, ialah Ig A. Imunglobulin itu sangat efektif sebagai perlindungan terhadap infeksi tapi pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem Imunoglobulin tubuh sebab jaringan limfe kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlah disaluran cerna dan seluruh tubuh.
( R.Syamsu)

 

Patofisiologi

Penyebab utama appendisitis adalah obstruksi penyumbatan yang dapat disebabkan oleh hiperplasia dari folikel limfoid merupakan penyebab terbanyak,adanya fekalit dalam lumen appendiks. Adanya benda asing seperti cacing, stiktura karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, sebab lain misalnya keganasan (karsinoma karsinoid).

Obsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung, makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium viseral. Oleh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus.

Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah, kemudian timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu, peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat, sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan appendisitis gangrenosa. Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah, dinamakan appendisitis perforasi. Bila omentum usus yang berdekatan dapat mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal, keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses. Pada anak – anak karena omentum masih pendek dan tipis, apendiks yang relatif lebih panjang , dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang, demikian juga pada orang tua karena telah ada gangguan pembuluh darah, maka perforasi terjadi lebih cepat. Bila appendisitis infiltrat ini menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari maka terjadi appendisitis kronis (Junaidi ).

 

Dampak Masalah
Individu dalam hal ini terjadi gangguan dari berbagai pola fungsi kesehatan antara lain

  1. Pola nutrisi dan metabolisme

    Klien biasanya akan mengalami gangguan pemenuhan nutrisi akibat pembatasan pemasukan makanan atau minuman sampai peristaltik usus kembali normal.

  2. Pola aktifitas dan latihan

    Aktifitas klien biasanya terjadi pembatasan aktifitas akibat rasa nyeri pada luka operasi sehinnga keperluan klien harus dibantu.

  3. Pola tidur dan istirahat.

    Klien akan mengalami gangguan kenyamanan dan pola tidur karena rasa sakit (nyeri) akibat tindakan pembedahan.

  4. Pola Eliminasi

    Pada pola eliminasi urine akibat penurunan daya konstraksi kandung kemih, rasa nyeri atau karena tidak biasa BAK ditempat tidur akan mempengaruhi pola eliminasi urine . Pola eliminasi alvi akan mengalami gangguan yang sifatnya sementara karena pengaruh anastesi sehingga terjadi penurunan fungsi.

  5. Pola Persepsi dan konsep diri

    Penderita menjadi ketergantungan dengan adanya kebiasaan gerak segala kebutuhan harus dibantu. Klien mengalami kecemasan tentang keadaan dirinya sehingga penderita mengalami emosi yang tidak stabil.

  6. Pola Reproduksi seksual

    Adanya larangan untuk berhubungan seksual setelah pembedahan selama beberapa waktu.

  7. Pola terhadap keluarga

    Perawatan dan pengobatan memerlukan biaya yang banyak harus ditanggung oleh keluarganya juga perasaan cemas keluarga terhadap keadaan klien.

     

     

     

     

    ASUHAN KEPERAWATAN

     

     

  1. PATHWAYS

    Pathways dapat dilihat disini

     

  2. ANALISA DATA
    NO TGL / JAM DATA PROBLEM ETIOLOGI
    1 Diisi pada saat tanggal pengkajian Berisi data subjektif dan data objektif yang didapat dari pengkajian keperawatan masalah yang sedang dialami pasien seperti gangguan pola nafas, gangguan keseimbangan suhu tubuh, gangguan pola aktiviatas,dll Etiologi berisi tentang penyakit yang diderita pasien

     

  3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
  4. Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan insisi pembedahan (Ingnatavicius).
  5. Potensial terjadi infeksi dengan invasi kuman pada luka operasi (Doenges ).
  6. Kecemasan sehubungan dengan kurangnya informasi dari team kesehatan akan penyembuhan penyakit (Ingnatavicius ).
  7.  

  8. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
    NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN PERENCANAAN
    1 Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan insisi pembedahan..

    Nyeri berkurang dalam waktu kurang dari 24 jam.. Dengan Kriteria Hasil :

    Klien menyatakan nyeri berkurang, tidak takut melakukan mobilisasi, klien dapat istirahat dengan cukup.
    Skala nyeri sedang

    1. Beri penjelasan pada klien tentang sebab dan akibat nyeri.
    2. Ajarkan teknik relaksasi dan destraksi.
    3. Bantu klien menentukan posisi yang nyaman bagi klien.
    4. Rawat luka secara teratur daan aseptik.
    2 Potensial terjadi infeksi sehubungan dengan invasi kuman pada luka operasi.

    Infeksi pada luka operasi tidak terjadi.
    Kriteria Hasil :

    Tidak ada tanda – tanda infeksi (rubor, dolor ) luka bersih dan kering.

     

    1. Beri penjelasan pada klien tentang pentingnya perawatan luka dan tanda – tanda atau gejala infeksi.
    2. Rawat luka secara teratur dan aseptik.
    3. Jaga luka agar tetap bersih dan kering.
    4. Jaga kebersihan klien dan lingkungannya.
    5. Observasi tanda – tanda vital.
    6. Kolaborasi dengan dokter untuk antibiotik yang sesuai
    3 Kecemasan sehubungan dengan kurangnya informasi dari Antibiotik menghambat proses infeksi dalam tubuh.

    Rasa cemas berkurang.

    Kriteria Hasil :

    Klien dapat mengekspresikan kecemasan secara konstruktif, klien dapat tidur dengan tenang dan berkomunikasi dengan teman sekamarnya.

    1. Jelaskan keadaan proses penyebab dan penyakitnya
    2. Jelaskan pengaruh psikologis terhadap fisiknya (Penyembuhan penyakit).
    3. Jelaskan tindakan perawatan yang akan diberikan.

 

You might also like:
 
ASKEP ANAK DENGAN BRONCHOPNEUMONI
 
ASKEP KLIEN DM DENGAN GANGREN
 
ASKEP KLIEN DENGAN GAGAL GINJAL KRONIK
 
ASKEP KLIEN DENGAN KANKER PAYUDARA
 
  • Seksual
  • Hiperplasia
  • Keperluan
  • Aliran
  • Main

{ 3 komentar… Views All / Send Comment! }

Mantri Badroe mengatakan…

terima kasih atas kunjungannya

17 Januari 2011 00:27
satrio mengatakan…

good…

20 Juli 2011 04:54
fenty mengatakan…

sangat oke…

9 Januari 2012 20:38

 

Poskan Komentar

 

 
 
 

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Best Friends

 
 

ASKEP KLIEN DENGAN APPENDICITIS AKUT:CONTOH ASKEP

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.